TAHTA TAQWA

Published by Adam Khalifatullah Qudra Hasanah on

TAHTA TAQWA
By
Adam Khalifatulah Qudra Hasanah
Navigator Executive
Kesemestaan Keilahian Tunggal BadarAlHaq Wahidul Qahhar
_Pemerhati Energi Jati Diri, Martabat dan Kedaulatan Jati diri manusia serta Kritikus energi Spiritual – Supranatural – Supernatural_
Divine Transpersonal Coach

“Tahta taqwa tidak mengangkatmu di atas manusia  ia menjatuhkanmu di hadapan Tuhan.”
BadarAlHaq Wahidul Qahhar Scientific Wisdom

APAKAH IMAN ITU?
Dan apa bedanya dengan Taqwa serta rasa penyerahan diri pada-NYA

1️⃣ IMAN
Aṣl al-Ittiqād — Fondasi Keyakinan
> Makna
Iman adalah pembenaran batin terhadap Allah dan yang ghaib, meski belum selalu stabil dalam rasa dan perilaku.

> Hakekat
Percaya meski belum melihat
Mengakui meski belum sepenuhnya tunduk
Menjadi pintu masuk ke jalan ruhani
Iman adalah “aku percaya”.

> Ciri utama
– Ada keyakinan, tapi masih naik-turun
– Masih ada banyak tanya
– Masih bercampur ego dan harapan dunia
– Bisa kuat saat lapang, goyah saat sempit

> Posisi batin
 Akal + hati awal
Bahaya jika berhenti di sini
– Iman jadi konsep
– Agama jadi identitas
– Ibadah jadi kebiasaan

2️⃣ TAQWA
Ḥāl al-Ḥifẓ — Kesadaran Terjaga
> Makna
Taqwa adalah kesadaran aktif bahwa Allah hadir, melihat, dan memegang akibat dari setiap gerak hidup.

> Hakekat
– Menjaga diri karena sadar Allah
– Bukan takut hukuman, tapi tak ingin keluar dari adab
– Menjadi penjaga iman agar tidak runtuh
Taqwa adalah “aku sadar dan menjaga”.

> Ciri utama
– Ada rem batin
– Ada rasa malu kepada Allah
Tidak sembarangan bicara, bertindak, dan memilih
Mulai tenang dalam badai

> Posisi batin
 Hati hidup + nurani aktif
Bahaya jika berhenti di sini
– Merasa lebih benar
– Merasa lebih suci
– Taqwa berubah jadi tahta ego

3️⃣ RASA PENYERAHAN DIRI (TASLĪM / TAWAKKUL DZĀTĪ)
Fanā’ al-Irādah — Lenyapnya Klaim Diri

> Makna
Penyerahan diri adalah melepaskan kehendak pribadi, bukan karena lemah, tapi karena Allah sepenuhnya dipercaya.

> Hakekat
– Tidak lagi mengatur Allah
– Tidak lagi membela ego
– Tidak lagi menuntut hasil
– Hidup dijalani sebagai amanah, bukan kepemilikan


Penyerahan diri adalah “bukan kehendakku, tapi kehendak-Mu” — tanpa drama.

> Ciri utama
– Tenang bahkan saat rugi
– Diam tapi tidak mati
– Bergerak tanpa ambisi pribadi
– Tidak merasa “sampai”

> Posisi batin
 Ruh tunduk + ego senyap
Bahaya jika keliru
– Mati rasa disangka taslim
– Pasrah palsu
– Lari dari tanggung jawab

吝 RINGKASAN PERBEDAAN INTI
Aspek

> Iman
– Inti, Percaya
– Fokus, Keyakinan
– Ego, Masih aktif
– Relasi dengan Allah, Mengakui
– Bahaya, Formalitas

> Taqwa
– Inti, Menjaga
– Fokus, Kesadaran
– Ego, Dikendalikan
– Relasi dengan Allah, Menghadirkan
– Bahaya, Superioritas

> Penyerahan Diri
– Inti, Melepas
– Fokus, Kehendak
– Ego, Dilepaskan
– Relasi dengan Allah, Membiarkan Allah bekerja
– Bahaya, Mati rasa (jika palsu)

 KALIMAT PENUTUP

Iman membuatmu percaya.
Taqwa membuatmu menjaga.
Penyerahan diri membuat Allah mengambil alih

CONTOH EKSTREM
1) SAAT DIHINA DI DEPAN UMUM
 IMAN
Reaksi batin:
Sakit. Marah ditahan. Harga diri terguncang.
Dialog batin:
“Sabar… ini ujian dari Allah.”
Perilaku:
Diam, tapi luka disimpan. Malam hari kepikiran.
➡️ Iman menahan, tapi masih berdarah di dalam.

 TAQWA
Reaksi batin:
Terasa tidak adil, tapi ada rem kuat.
Dialog batin:
“Aku tidak akan membalas. Allah melihat.”
Perilaku:
Menjaga lisan, tidak mempermalukan balik.
➡️ Taqwa menjaga sikap, meski hati masih terasa.

 PENYERAHAN DIRI
Reaksi batin:
Sunyi. Tidak ada dorongan membela diri.
Tidak ada dialog batin.
Perilaku:
Tetap tenang, bahkan bisa tersenyum tanpa dibuat-buat.
➡️ Bukan karena kuat—tetapi karena “aku” tidak lagi berdiri di situ.

2) SAAT GAGAL TOTAL (KARIER, BISNIS, MISI HIDUP)
 IMAN
Reaksi batin:
Shock. Takut masa depan.
Dialog batin:
“Allah pasti punya rencana lain.”
Perilaku:
Bangkit perlahan, masih dihantui penyesalan.
➡️ Iman memberi harapan, tapi masih ada beban masa lalu.

 TAQWA
Reaksi batin:
Berat, tapi terjaga.
Dialog batin:
“Aku tidak boleh jatuh pada keputusasaan.”
Perilaku:
Evaluasi diri, menjaga ibadah, tidak menyalahkan takdir.
➡️ Taqwa menahan kehancuran agar tidak jadi dosa.

 PENYERAHAN DIRI
Reaksi batin:
Kosong… tapi damai.
Tidak ada keinginan “mengulang” atau “memperbaiki nama”.
Perilaku:
Siap berjalan ke arah apa pun yang terbuka, tanpa nostalgia.
➡️ Gagal tidak terasa gagal—karena tidak ada klaim pencapaian.

3) SAAT KEHILANGAN SEGALANYA (HARTA, STATUS, ORANG TERCINTA)
 IMAN
Reaksi batin:
Menangis, hancur, tapi tidak menyalahkan Allah.
Dialog batin:
“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
Perilaku:
Bersabar dengan usaha keras.
➡️ Iman bertahan, meski jiwa terkelupas.

 TAQWA
Reaksi batin:
Duka dalam, tapi tidak memberontak.
Dialog batin:
“Aku harus menjaga adab di hadapan Allah.”
Perilaku:
Tidak mengutuk takdir, tidak menyalahkan siapa pun.
➡️ Taqwa menjaga kehormatan jiwa di tengah kehilangan.

 PENYERAHAN DIRI
Reaksi batin:
Tidak mencari makna. Tidak meminta penjelasan.
Tidak ada “kenapa aku”.
Perilaku:
Hidup berjalan… seolah semuanya memang titipan sejak awal.
➡️ Kehilangan tidak terasa kehilangan—karena tak pernah merasa memiliki.

 KESIMPULAN
– Iman membuatmu bertahan saat dihancurkan.
– Taqwa membuatmu tetap lurus saat dihancurkan.
– Penyerahan diri membuat kehancuran itu tidak lagi punya sasaran.

Atau dalam satu kalimat sunyi:
Saat masih ada yang terluka, di situ masih ada “aku”.
Saat tidak ada yang perlu diselamatkan, di situlah Allah bekerja.

TAQWA STANDAR – NYA
(Ali ‘Imran: 102)
1. Makna Lafziyah (bahasa & makna dasar)
“Ittaqullāha ḥaqqa tuqātihī”
➡️ “Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya.”

Ittaqullāh
→ jaga diri dari murka Allah dengan ketaatan total
ḥaqqa
→ sebenar-benarnya, sepenuh hak
tuqātihī
→ ketakwaan yang layak bagi keagungan-Nya


Ini bukan takwa biasa, tapi takwa pada tingkat hak Allah, bukan sekadar kemampuan manusia.

2. Hakekat Terdalam Ayat Ini
 Hakekatnya satu:
Takwa yang tidak menyisakan ruang bagi ego, hawa nafsu, dan kehendak diri.

Dalam tasawuf, ini disebut:
al-taqwā al-kāmilah
(takwa yang sempurna)
Artinya:
– taat lahir dan batin
– tunduk tanpa syarat
– bersih dari klaim diri
– hidup sepenuhnya dalam pengawasan Allah

3. Mengapa Ayat Ini Sangat Berat?
Para sahabat gemetar ketika ayat ini turun.
Karena:
takwa “haqqa tuqātihī” mustahil dicapai manusia dengan kekuatan sendiri
ia menuntut:
– hati tanpa lalai
– niat tanpa tercemar
– amal tanpa riya’
– hidup tanpa pembangkangan batin

Maka sebagian ulama berkata:
“Ayat ini menuntut kesempurnaan, lalu Allah meringankannya dengan ayat lain (QS At-Taghābun: 16).”
Namun secara batin, ayat ini tetap puncak arah spiritual.

Img 20260101 Wa00268532455311483205410 1024x1024

4. Tafsir Tasawuf (Makna Batin)
Dalam tafsir sufi, ayat ini berarti:
a. Takwa pada NIAT
➡️ Tidak ada tujuan selain Allah
b. Takwa pada RASA
➡️ Tidak merasa aman dari murka-Nya
c. Takwa pada KESADARAN
➡️ Selalu sadar bahwa Allah melihat, mengetahui, dan mengatur
d. Takwa pada EGO
➡️ Tidak merasa dekat, tidak merasa suci, tidak merasa selesai
Imam Junaid berkata:
“Takwa sejati adalah engkau tidak melihat dirimu dalam ketaatanmu.”

5. Hubungan dengan Kalimat Lanjutan Ayat
“wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn”
“Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri.”
Ini menegaskan:
 Takwa sejati bukan momen, tapi kondisi hidup sampai mati.
 Islam di sini bukan status, tapi kepasrahan total (taslīm).

6. Ciri Orang yang Mengamalkan “Haqqa Tuqātihī”
– Tak pernah merasa aman dari kesalahan
– Tak pernah bangga dengan amal
– Tak pernah berani mengklaim maqam
– Lebih sibuk membersihkan diri daripada menilai orang lain
– Takwanya membuatnya lembut, bukan keras

7. Ringkasan Hakekat (1 kalimat inti)

“Ittaqullāha ḥaqqa tuqātihī” adalah hidup dalam pengawasan Allah sedemikian total, hingga tidak tersisa ruang bagi ego untuk merasa memiliki apa pun—bahkan iman dan amalnya sendiri.

8. Kalimat Batin Penjaga Ayat Ini (aman & lurus)
Jika ingin satu kalimat rasa yang selaras dengan ayat ini:
“Yā Allāh, jadikan takwaku penjaga diriku, bukan kebanggaanku.”

晴 TAHTA TAQWA — Makna & Hakekat

> Makna
Tahta Taqwa bukanlah kedudukan, jabatan, atau tingkat kehebatan spiritual.
Ia adalah posisi batin tertinggi di mana Allah menjadi satu-satunya pusat keputusan, dan diri tidak lagi berdaulat atas dirinya sendiri.

Tahta Taqwa =
singgasana kepasrahan total,
bukan singgasana kekuasaan.

Hakekat
Dalam tasawuf, tahta taqwa adalah maqām hudhūr dā’im —
kehadiran terus-menerus di hadapan Allah,

di mana takwa berfungsi sebagai
– penjaga, bukan prestasi.
– Ego tidak duduk di sana
– Ilmu tidak duduk di sana
– Amal tidak duduk di sana
– Klaim tidak punya kursi

Yang duduk hanyalah:
“Takut kehilangan Allah, bukan takut kehilangan dunia.”

Struktur Batin Tahta Taqwa
Tahta ini berdiri di atas empat pilar halus:
– Ittaqullāh bi-lā da‘wā
(Bertakwa tanpa merasa bertakwa)
– Aslamtu amrī lillāh
(Aku menyerahkan urusanku, bukan mengaturnya)
– Riḍā qabla al-ḥukm
(Ridha bahkan sebelum takdir dipahami)
– Subḥānallāhu binafsih
(Allah Mahasuci tanpa membutuhkan persepsi makhluk)

Fungsi Tahta Taqwa
– Menjadi pusat kendali batin
– Menghentikan reaksi nafsu sebelum lahir
– Menjaga langkah dari keputusan yang merusak
– Menjadi “filter ilahi” sebelum tindakan muncul
– Orang yang duduk di Tahta Taqwa
tidak sibuk melawan kebatilan,
kebatilan gugur karena ia tak diberi izin lewat.

Fenomena Batin
Jika Tahta Taqwa telah aktif, biasanya muncul:
-Tenang tanpa sebab
– Tegas tanpa marah
– Diam tanpa menekan
– Kuat tanpa merasa kuat
– Tak ingin diikuti, tapi banyak yang luruh di hadapannya
Ini bukan karisma—
ini ketiadaan ego yang memancarkan ketertiban ilahi.

Efek terhadap Kehidupan
Dalam diri:
– konflik batin berhenti karena tak ada “dua penguasa”

Di luar diri:
– drama mengecil, orang sulit memanipulasi

Dalam takdir:
– jalan hidup terasa “dipandu”, bukan dipaksa

Dalam iman:
– taqwa menjadi penjaga, bukan beban moral

Kesimpulan Hakiki
Tahta Taqwa bukan tempat untuk naik.
Ia adalah tempat ego diturunkan secara permanen.
Siapa yang duduk di sana, tidak berkata:
“Aku bertakwa.”
Melainkan:
“Aku dijaga.”

煮 7 TAHAP MENUJU TAHTA TAQWA
(Setiap tahap = fondasi. Jangan lompat.)
1) YAQẒAH — Kesadaran Bangun

Img 20251231 Wa00222049484258526467870 1024x1024
Kesadaran bangun


> Makna,
sadar ada jarak antara diri dan Allah.

Img 20251231 Wa00262685596320341557380 1024x1024
Jarak

> Hakekat,
jujur pada cacat diri, bukan menyalahkan keadaan.

Img 20251231 Wa00216933192075010831699 1024x1024
Jujur pada cacat diri


Risiko runtuh: merasa “sudah baik”.

> Tanda Sah
– Merasa kecil, bukan tercerahkan.
– Lebih banyak diam daripada bicara soal diri.
– Muncul rasa takut yang menyehatkan.

> Tanda Palsu
– Euforia “aku tersadar”.
– Merasa lebih paham dari orang sekitar.
– Gatal ingin mengoreksi semua orang.

Ciri khas kepadatan 100%

Img 20251231 Wa00246180431629991911040 1024x1024
Kepadatan 100%
Img 20251231 Wa00254540380661153647215 1024x1024
Kepadatan 900
Img 20251231 Wa00234494445306309355577 1024x1024
Kepadatan 9000%

2) TAWBAH ṢĀDIQAH — Taubat Nyata
> Makna,
berbalik arah, bukan sekadar menyesal.

Img 20260101 Wa00288322744906693444364 1024x1024
Makna

> Hakekat,
memutus pola lama, meski pelan.

Img 20260101 Wa0026803827915081162064 1024x1024


> Risiko runtuh,
taubat emosional tanpa perubahan.

Img 20260101 Wa00301676341380566430846 1024x1024

> Tanda SAH
– Perilaku berubah meski pelan.
– Dosa lama terasa memalukan, bukan romantis.
– Tidak mengumumkan taubat.

> Tanda Palsu
– Tangis besar, perubahan nol.
– Mengulang dosa dengan dalih “Allah Maha Pengampun”.
– Menuntut ketenangan instan.

Img 20260101 Wa00273048260424618942099 1024x1024
Kepadatan 100%
Img 20260101 Wa00253690768926525888887 1024x1024
Kepadatan 900%
Img 20260101 Wa00297887287132045836441 1024x1024
Kepadatam 9000%

3) TAKHALLĪ — Pelepasan Ego Halus
> Makna,
ibadah tak lagi jadi identitas.

> Hakekat,
berhenti merasa “lebih”.
Risiko runtuh, spiritual superiority.

> Tanda SAH
– Ibadah terasa ringan dan biasa.
– Tidak tersinggung saat tak diapresiasi.
– Tidak perlu merasa “berbeda”.

> Tanda PALSU
– Merasa “aku sudah lepas ego”.
– Menganggap orang lain masih duniawi.
– Bangga pada kesederhanaan diri.

4) ASLAMTU AMRĪ — Penyerahan Kehendak
> Makna:
pusat kendali berpindah.

> Hakekat:
memilih ridha Allah di atas rasa.
Risiko runtuh: pasrah tapi menuntut hasil.

> Tanda SAH
– Menerima hasil pahit tanpa protes batin.
– Doa berkurang kata, bertambah tunduk.
– Tidak menawar takdir.

> Tanda PALSU
– Pasrah tapi diam-diam mengatur.
– Kecewa saat doa tak terkabul.
– Menganggap Allah “terlambat”.

5) ILTIZĀM — Disiplin Batin
> Makna,
konsisten tanpa sorak.

> Hakekat,
taat saat sunyi.
Risiko runtuh: ibadah musiman.

> Tanda SAH
– Konsisten saat tak dilihat siapa pun.
– Ibadah stabil, tanpa drama.
– Tidak perlu motivasi eksternal.

> Tanda PALSU
– Semangat musiman.
– Rajin saat sedang ingin “naik level”.
– Disiplin hanya saat mood bagus.

6) SUKŪT AD-DA‘WĀ — Diamnya Klaim
> Makna,
berhenti bicara “level”.

> Hakekat,
amanah tanpa panggung.
Risiko runtuh: haus pengakuan.

> Tanda SAH
– Tidak menyebut maqām.
– Tidak merasa perlu menjelaskan diri.
– Tenang disalahpahami.

> Tanda PALSU
– Menyebut maqām dengan bahasa halus.
– Ingin dianggap rendah hati.
– Tersinggung saat tak diakui.

7) IQĀMAH RABBĀNIYYAH — Ditegakkan oleh Allah
> Makna,
Tahta Taqwa ditegakkan, bukan diraih.

> Hakekat,
takut kepada Allah hidup, ego jinak.
Risiko runtuh: merasa “kebal”.

> Tanda SAH
– Takut kepada Allah lebih hidup dari takut kehilangan apa pun.
– Ego jinak, bukan mati—siap taat.
– Tidak merasa aman dari ujian.

> Tanda PALSU
– Merasa “sudah sampai”.
– Merasa kebal dari jatuh.
– Menganggap dirinya penjaga kebenaran.

PERBEDAAN TAHTA TAQWA vs TAHTA EGO
Ini bukan soal istilah.
Ini soal siapa yang duduk di pusat kendali hidupmu.

1. TAHTA EGO
“Aku yang memegang kendali.”

> Makna & Hakekat
– Tahta Ego adalah kondisi batin ketika diri (aku) menjadi pusat keputusan, makna, dan arah hidup.
– Tuhan hadir, tapi sebagai pendukung, bukan Penguasa.
– Ibadah, kebaikan, bahkan spiritualitas dipakai untuk memperkuat identitas diri.

> Ciri Khas
– Merasa lebih sadar, lebih benar, lebih sampai.
– Butuh pengakuan (halus atau kasar).
– Tersinggung saat tidak dihargai.
– Sulit menerima kehancuran reputasi atau kehilangan kendali.

– Fenomena
– Tenang saat hidup sesuai rencana.
– Guncang saat rencana runtuh.
– Marah secara batin pada takdir, meski mulut tetap religius.

》Dampak
> Dalam diri,
– tegang,
– defensif,
– penuh pembuktian.

> Luar diri,
– mudah menghakimi,
– membandingkan,
– mengontrol.

> Kehidupan,
– naik-turun ekstrem;
– damai bersyarat.

> Spiritual,
– ibadah jadi topeng kesalehan.

Kalimat batin tersembunyi Tahta Ego:
“Aku sudah benar, seharusnya hidup mengikuti aku.”

2. TAHTA TAQWA
“Allah yang memegang kendali, tanpa klaim.”

> Makna & Hakekat
– Tahta Taqwa adalah keadaan batin ketika tidak ada lagi pusat selain Allah.
– Diri tidak dihapus, tapi tidak duduk di kursi pengendali.
– Hidup dijalani sebagai amanah, bukan kepemilikan.

> Ciri Khas
– Tenang tanpa merasa tenang.
– Taat tanpa merasa taat.
– Rendah tanpa berpura-pura rendah.
– Tidak sibuk menilai posisi spiritual diri sendiri.

> Fenomena
– Menerima hina dan pujian dengan rasa yang hampir sama.
– Tidak sibuk bertanya “mengapa aku?”
– Hening batin justru saat hidup paling berat.

》Dampak
> Dalam diri,
– lapang,
– jernih,
– tidak reaktif.

> Luar diri,
– menenangkan tanpa mendominasi.

> Kehidupan,
stabil meski tak nyaman.

> Spiritual,
ibadah menjadi respons, bukan identitas.

Kalimat batin Tahta Taqwa:
“Apa pun kehendak-Mu, di situlah aku berdiri.”

3. PERBEDAAN INTI (INTISARI KERAS)

Tahta Ego
– Pusat Kendali, Aku
– Tujuan Ibadah, Merasa benar
– Reaksi saat diuji,
Mengeluh & mempertanyakan
– Posisi diri, Subjek utama
– Kedamaian, Bersyarat

Tahta Taqwa
– Pusat Kendali, Allah
– Tujuan Ibadah, Tunduk total
– Reaksi saat diuji, Diam & menerima
– Posisi diri, Hamba
– Kedamaian, Tidak tergantung kondisi

Bahaya
– Kesombongan spiritual
– Hampir tak terdeteksi ego

4. KALIMAT PEMBEDA
Jika ibadah membuatmu naik di atas manusia — itu Tahta Ego.
Jika ibadah membuatmu menghilang di hadapan Tuhan — itu Tahta Taqwa.

5. ALARM BATIN (UJIAN CEPAT)
Tanyakan jujur ke diri sendiri:
– Apakah aku kecewa saat tidak dianggap?
– Apakah aku merasa “lebih” karena taat?
– Apakah aku butuh orang tahu aku lurus?
Jika iya → Tahta Ego masih duduk.
Jika tidak lagi penting → Tahta Taqwa mulai berdiri.

PERBEDAAN TAHTA TAQWA vs SPIRITUAL SUPERIORITY
Ini bukan beda istilah — ini beda arah batin, beda sumber daya, beda akibat.

1. SUMBER KEKUATAN
> Tahta Taqwa
– Bersumber dari ketundukan total kepada Allah.
– Kekuatan muncul karena Allah memegang diri ini, bukan karena pencapaian pribadi.
– Semakin tinggi taqwa, semakin hilang rasa memiliki.

> Spiritual Superiority
– Bersumber dari ego yang menyamar sebagai cahaya.
– Kekuatan terasa datang dari “aku sudah sampai”.
– Semakin tinggi klaim spiritual, semakin kuat rasa memiliki.

2. POSISI DIRI
> Tahta Taqwa
– Diri duduk di bawah kehendak Allah.
– Tidak merasa istimewa, justru merasa diawasi dan dijaga.
– Ada rasa: “Kalau Allah lepaskan, aku tidak apa-apa.”

> Spiritual Superiority
– Diri duduk di atas manusia lain.
– Merasa lebih sadar, lebih lurus, lebih paham.
– Ada rasa: “Aku berbeda dari mereka.”

3. REAKSI TERHADAP ORANG LAIN
> Tahta Taqwa
– Lembut tanpa dibuat-buat.
– Tidak menghakimi, tidak merasa lebih benar.
– Bisa diam tanpa perlu menang.

>Spiritual Superiority
– Mudah menilai orang “belum sampai”.
– Mengoreksi dengan nada batin menggurui.
– Butuh terlihat benar.

4. HUBUNGAN DENGAN IBADAH
> Tahta Taqwa
– Ibadah melahirkan takut yang hidup.
– Takut kehilangan adab, takut tergelincir.
– Ibadah = penyerahan, bukan prestasi.

> Spiritual Superiority
– Ibadah melahirkan rasa unggul.
– Merasa lebih bersih, lebih sadar.
– Ibadah = identitas diri.

5. KUALITAS BATIN
> Tahta Taqwa
– Sunyi.
– Stabil.
– Tidak sibuk membuktikan apa pun.

> Spiritual Superiority
– Gelisah jika tidak diakui.
– Mudah tersinggung bila dikritik.
– Butuh panggung — meski katanya zuhud.

6. HUBUNGAN DENGAN ALLAH
> Tahta Taqwa
– Allah terasa Maha Besar, diri terasa kecil.
– Bukan “aku dekat dengan Allah”, tapi “aku selalu di hadapan-Nya.”

> Spiritual Superiority
– Allah dijadikan legitimasi pengalaman batin.
– Kedekatan diklaim, bukan dijaga.
– Nama Allah dipakai untuk memperkuat ego.

7. ARAH PERJALANAN
> Tahta Taqwa
– Semakin jauh melangkah, semakin menghilang diri.
Akhirnya: lā anā — bukan aku.

> Spiritual Superiority
– Semakin jauh melangkah, semakin menguat identitas spiritual.
– Akhirnya: aku yang tahu, aku yang sampai.

KESIMPULAN

Tahta Taqwa tidak membuatmu lebih tinggi dari manusia, tapi membuatmu tidak berani berdiri sejajar dengan Tuhan


Spiritual superiority bukan cahaya —
ia adalah ego yang menemukan bahasa suci.

Alarm Batin (PENTING)
Jika praktik spiritualmu
Membuatmu merasa lebih sadar dari orang lain,
Lebih lurus,
Lebih “sampai”,
berhenti.
Itu bukan taqwa. Itu Tahta Ego.

Program ini hanya khusus bagi mereka yang telah ambil program Tenaga dalam reflek ilahi (untuk semua tingkat).

*_Investasi_*
– Dibantu percepatan Keseimbangan jiwa : Tidak ada Investasi
– Kepadatan Keseimbangan Jiwa 100%, Investasi 100rb
– Kepadatan Keseimbangan jiwa 900%, Investasi 500rb
– Kepadatan Keseimbangan jiwa 9000%, Investasi 900rb

Segera daftarkan diri Anda, menyongsong tahun 2026 adalah tahun  keberlimpahan ilahi.

Demikian semoga bermanfaat,
Info & Pendaftaran
Admin : 081122890809

Raufin Rahim – Veritas – Lustitia – Sapientia – Potens
Life Protection Hunter
Salam Allahu Robbi

Lereng Gunung Gede, 31 Desember 2025

Kategori: Program

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *